Pengalaman Sembuh dari Biduran dan Berobat ke Dokter SpKK Terbaik di Sidoarjo
BEAUTY & HEALTH, FUN REVIEW

Pengalaman Sembuh dari Biduran dan Berobat ke Dokter SpKK Terbaik di Sidoarjo

Biduran atau dalam bahasa Jawa dikenal dengan biduren. Penyakit yang disebabkan karena alergi bahkan faktor genetik ini pun tidak bisa sembarangan dalam penangannya. Di sini, saya akan menceritakan pengalaman biduran atau gatal-gatal dan berobat ke dokter SpKK terbaik di Sidoarjo yang alhamdulillah telah mereda jauuh, usai hingga tulisan ini diterbitkan (enam hari biduran).

Kronologi Biduran

Jadi, tiba-tiba, Minggu pagi saya merasa gatal-gatal di area paha. Saya pikir, ya memang sudah waktunya mandi saja. Ternyata oh ternyata! Justru saya gatal-gatal sebadan.

Sempat berjuang dan tidak mau membatalkan puasa. Saya justru kemudian harus merasakan gatal bercampur panas (clekit-clekit). 

Alhasil, saya membatalkan puasa dengan berbuka segelas degan ijo pembelian suami. Sempat reda setengah jam, namun rasa gatal itu muncul kembali.

Tapi, intuisi saya memang sepertinya sedang alergi dingin. Mengingat beberapa hari di minggu lalu, angin di kota kami cukup ekstrim, karena berkurangnya kendaraan bermotor dan jalanan menjadi sepi akibat diberlakukannya PSBB.

Berobat ke Dokter Umum

Karena gatal-gatal saya semakin menjadi-jadi dan membuat saya menangis, akhirnya suami memutuskan untuk membawa saya ke dokter umum terdekat.

Setelah dicek bentuk bidurannya, dokter mengatakan bahwa memang saya sedang alergi cuaca, khususnya dingin.

Lalu, mengapa tak kunjung reda?

Beliau berkata bahwa, sistem imun saya kemungkinan besar sedang turun. Akhirnya perlawanan terhadap zat asing tidak segera berakhir.

Saya diberi tiga jenis obat. Satu untuk vitamin kulit, satu obat alergi, dan satu lagi (setelah saya cek di internet) semacam antibiotik untuk peradangan begitu.

obat antibiotik dan alergi dari dokter umum untuk alergi
Obat dari Dokter Umum

Hasilnya? Hilang memang dalam semalam. Keesokan harinya, bidur di badan saya menghilang. Namun, setelah mandi pagi (sudah pakai air hangat atas saran dokter) dan keluar kamar, biduran kembali muncul. Daaaan, lebih heboh! Memang tidak begitu banyak yang bentol sih, tapi ruam-ruamnya banyaaak.

Bahkan sampai ke muka, hingga terasa bengkak.

Memang, sepertinya obatnya cocok. Tapi, begitu terkena cuaca dingin, badan saya kembali halu.

Berobat ke Dokter SpKK

Tak berhenti sampai di situ. Suami akhirnya memutuskan membawa saya ke dokter kulit kepercayaan suami dan alm. Bapak (mertua). Mereka sempat berobat di sana dan sembuh total.

Kami pun akhirnya menghubungi kontak yanh tertera. Dan mengambil jam antrean.

Bagaimana pengobatan dengan dokter spesialis kulit ini?

Biduran Faktor Genetik

Setelah menjelaskan kronologi sakit, akhirnya Pak Dokter pun memeriksa bidur yang ada di tangan saya.

Beliau berkata bahwa memang yang saya alami adalah biduran, beliau juga menanyakan apakah ada keluarga (bapak atau ibu) yang juga punya alergi. Saya menjelaskan bahwa memang ibu saya itu alergi dingin. Saya pun demikian. Namun, saya belum pernah separah ini. Biasanya hanya beberapa jam saja, bidur sudah bisa hilang.

Antibodi Setiap Orang itu Unik

Dokter pun menjelaskan bahwa:

Setiap orang memiliki hormon yang bernama histamin, berfungsi sebagai pembantu melawan infeksi dan alergi. Namun, kadarnya berbeda-beda.

Bagi pemilik biduran faktor gen, mereka cenderung memiliki histamin yang tinggi. Sehingga, ketika ada benda atau hal asing yang masuk atau memapari tubuh, mereka akan membuat perlawanan dalam bentuk biduran itu.

Nah, kemungkinan besar memang imunnya sedang turun. Sehingga histamin dalam tubuh saya masih sangat tinggi untuk membentuk antibodi dan membuat bercak bidur masih sering terlihat.

Obat Steroid dan Antihistamin

Sebelum diberikan resep, dokter bertanya apakah saya sedang hamil. Saya menjawab, tidak, namun lupa bertanya mengapa. Nah, setelah saya baca, memang ada beberapa obat untuk biduran yang kurang baik dikonsumsi oleh ibu hamil.

Setelah menebus resep dan pulang, akhirnya saya makan dan mengonsumsi obat yang diberikan dokter. Saya mencari tahu jenis obat apa saja yang okter resepkan.

pengalaman obat biduran antihistamin dan steroid
Obat dari Dokter SpKK

Ternyata saya diberi dua jenis obat yaitu untuk steroid atau antiradang dan obat pengontrol histamin atau antihistamin.

Konsumsi pertama: bercak dan gatal masih ada meski sebagian besar sudah banyaaaak yang hilang. Tapi kalau saya sering keluar kamar dan terkontak dengan air dingin, langsuuung merah-merah lagi.

Konsumsi kedua (sahur tadi): bercak dan gatal sudah lebih banyak yang hilang. Tapiiii, kalau terpapar udara dan air dingin masih sering muncul meski tidak separah sebelumnya.

Pengalaman Sembuh dari Biduran

Setelah saya dan suami amati pola tiga hari ini, biduran akan lebih cepat hilang bila diatasi dengan obat yang benar dan mengurangi kontak terhadap hal-hal yang membuat kita alergi.

Perbanyak konsumsi makanan bergizi dan menambah jam tidur juga berpengaruh dalam perbaikan sistem imun tubuh kita. Karena stres dan lelah ternyata juga dapat meningkatkan produksi hormon histamin dalam tubuh. Oh ya, saya juga meminum madu setiap 4 jam usai mengonsumsi obat setelah berbuka.

Naah, itulah sekian pengalaman saya dan biduran. Doakan cepat sembuh ya, fellas! Stay safe and healthy for us!

Kontak dokter SpKK:

Dokter Sunarso Pondok Tjandra Sidoarjo

Nb: Biaya berobat tergantung jenis resep yang ditebus (menyesuaikan harga obat). Namun, untuk biaya konsultasi dokter sebesar Rp200 ribu.

 

Featured image by Freepik

 

 

4 thoughts on “Pengalaman Sembuh dari Biduran dan Berobat ke Dokter SpKK Terbaik di Sidoarjo

    1. Wah, maaf ya, Kak, saya sendiri juga lupa dan resepnya tidak ada.
      Tapi pernah, teman saya mencoba membeli dengan menunjukkan foto di blog ini ke apoteker ternyata ditolak, Kak.
      Infonya harus pakai resep Dokter.

      Maaf banget Kak, semoga segera lekas sembuh, semangat ^^

    1. waktu itu saya butuh 2x check up baru sembuh total kak, dan alhamdulillah sampai sekarang sudah ndak minum obatnya lagi

Leave a Comment

Your email address will not be published.